Laman

Thursday, 25 April 2013

HAKIKAT PENDIDIKAN



Secara etimologis, kata pendidikan berasal dari kata dasar didik, yang mendapat imbuhan awalan dan akhiran pe-an. Berubah menjadi kata kerja mendidik, yang berarti membantu anak untuk menguasai aneka pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang diwarisi
dari keluarga dan masyarakatnya. Istilah ini pertama kali muncul dengan bahasa Yunani yaitu paedagigiek, yang berarti ilmu menuntun anak, dan paedagogia adalah pergaulan denga anak-anak, sedangkan orangnya yang menuntun atau mendidik anak adalah paedagog.
Orang Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa waktu dilahirkan didunia. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai erziehung, yang setara dengan educare, yakni membangkitkan kekuatan terpendam ayau mengaktifkan kekuatan atau potensi anak. Dalam bahasa Inggris dikenal kata education (kata benda) dan aducate (kata kerja) yang berarti mendidik.
Dalam kamus bahasa Inggris Oxford Learner’s Pocket Dictionary, kata pendidikan diartikan sebagai pelatihan dan pembelajaran (education is training and instruction). Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendidikan diartikan sebagai proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui proses pengajaran dan pelatihan. Sedangkan dalam terminologi Jawa
dikenal dengan istilah panggulawentah yang berarti pengolahan, penjagaan dan pengasuhan baik fisik maupun kejiwaan anak.
Secara terminology, para ahli mengemukakan berbagai pendapat terkait denga pendidikan, antara lain :

  1.  John Dewey mengartikan pendidikan adalah suatu proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental baik secara intelektual maupun emosional ke arah alam dan sesama manusia.
  2. J. Gielen and S. Strasser, menyebut pendidikan sebagai segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan.
  3. John S. Brubacher, mengartikan pendidikan sebagai proses dimana potensi-potensi, kemampuan, kapasitas yang mudah dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan, disempurnakan dengan kebiasaan yang baik dengan alat disusun sedemikian rupa dan digunakan manusia untuk menolong orang lain atau diri sendiri dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.

Ahli pendidikan lain dari Indonesia mengartikan pendidikan juga beragam, antara lain :
  1. Ki Hajar Dewantara, mengartikan pendidikan sebagai usaha menuntun segenap kekuatan kodrat yang ada pada anak baik sebagai individu manusia maupun sebagai anggota masyarakat agar dapat mencapai kesempurnaan hidup.
  2. Made Pidarta, menyebutkan pendidikan adalah teori umum mengenai pendidikan (education is the generally theory of education).
  3. Ngalim Purwanto, mengutarakan bahwa pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohani kea rah kedewasaannya.
  4. Sutan Zanti Arbi, menyebut pendidikan sebagai usaha yang dilakukan dengan disengaja dan sadar untuk mengembangkan kerpibadian anak agar bias menjadi anggota masyaarakat.
Adapun makna pendidikan menurut yuridis atau perundang-undangan yang berlaku, dapat disimak dari dua undang-undang pendidikan yang berlaku terakhir di Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 02 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa Pendidikan adalah upaya sadar yang diarahkan untuk mempersiapkan peserta didik melalui kegiatan pengajaran, bimbingan dan /atau latihan bagi perannya di masa yang akan datang.
Sedangkan menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan bagi dirinya, masyarakat dan bangsa.
Dalam bahasa Arab pendidikan disebut Tarbiyah yang diambil dari kata Rabba (rabba – yurabbi - tarbiyah) yang bermakna memelihara , mengurus, merawat, mendidik. Dalam literatur-literatur berbahasa Arab kata Tarbiyah mempunyai bermacam macam definisi yang intinya sama mengacu pada proses pengembangan potensi yang dianugrahkan pada manusia. Definisi-definisi itu antara lain sebagai berikut :
  1.  Tarbiyah adalah proses pengembangan dan bimbingan jasad, akal dan jiwa yang dilakukan secara berkelanjutan sehingga mutarabbi (anak didik) bisa dewasa dan mandiri untuk hidup di tengah masyarakat.
  2. Tarbiyah adalah kegiatan yang disertai dengan penuh kasih sayang, kelembutan hati, perhatian bijak dan menyenangkan; tidak membosankan.
  3. Tarbiyah adalah proses yang dilakukan dengan pengaturan yang bijak dan dilaksanakan secara bertahap dari yang mudah kepada yang sulit.
  4. Tarbiyah adalah mendidik anak melalui penyampaian ilmu, menggunakan metode yang mudah diterima sehingga ia dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari
  5. Tarbiyah adalah kegiatan yang mencakup pengembangan, pemeliharaan, penjagaan, pengurusan, penyampaian ilmu, pemberian petunjuk, bimbingan, penyempurnaan dan perasaan memiliki terhadap anak didik.
Dalam definisi –definisi di atas tersirat unsur-unsur pembelajaran yaitu ta‟lim dan tadris (pengenalan) tahdib dan ta‟dib (penanaman akhlak mulia) dan tadrib (pelatihan). Maka dari uraian makna panjang lebar tentang pendidikan baik secara etimologis, terminologis maupun yuridis di atas, akhirnya dapat ditarik benang merah, yaitu :
  1. Pendidikan berwujud aktifitas interaktif yang sadar dan terencana.
  2. Dilakukan oleh minimal dua orang, satu pihak berperan sebaga fasilitator dan dinamisator sedang pihak lainnya sebagai subyek yang berupaya mengembangkan diri
  3. Proses dicapai melalui penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran
  4. Terdapat nilai yang diyakini kebenarannya sebagai dasar aktivitas
  5. Memiliki tujuan baik dalam rangka mengembangkan segenap potensi internal individu anak
  6. Puncak ketercapaian tujuan adalah kedewasaan, baik secara fisik, psikologik, social, emosional, ekonomi, moral dan spiritual pada peserta didik.
Para ahli bersepakat bahwa pendidikan yang baik selalu dilakukan dengan cara-cara mendidik yang baik. Cara mendidik yang baik adalah cara yang mendasarkan diri pada teori-teori mendidik hasil pemikiran dan hasil penelitian para ahli. Disamping itu, pengalaman mendidik para pendahulu yang dianggap berhasil juga diakui sebagai referensi cara mendidik yang baik. Dengan kata lain, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dilakukan dengan mendasarkan pada teori dan praktik mendidik yang disepakati para ahli yang dirangkum dalam disiplin ilmu yang kemudian disebut dengan ilmu pendidikan.
Secara umum, ilmu pendidikan dipahami dalam dua pengertian. Pengertian pertama, ilmu pendidikan dipahami sebagai seni mendidik (the art of educating) atau seni mengajar (the art of teaching) sebagaimana yang diungkapkan oleh Carter V. Good. Pengertian semacam ini menganggap ilmu pendidikan berisi sederetan kiat-kiat jitu dalam mendidik yang efektif, sebagaimana telah dikaji dan diteliti para ahli. Pengertian kedua, ilmu pendidikan dipahami sebagai disiplin ilmu yang mempelajari fenomena pendidikan dengan prinsip-prinsip ilmiah (science of education).
Ahli pendidikan Indonesia, Brodjonegoro mengartikan ilmu pendidikan secara sempit dan luas. Secara sempit ilmu pendidikan diartikan sebagai teori pendidikan dan perenungan tentang pendidikan, sedangkan secara luas diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari soal-soal yang timbul dalam praktik pendidikan.

Pentingnya Pendidikan bagi Kehidupan
Kegiatan mendidik dilakukan oleh banyak orang dibanyak tempat, lebih-lebih kegiatan ini secara natural telah dilakukan oleh para orang tua terhadap anaknya. Praktik kegiatan mendidik yang telah berlangsung jutaan tahun lamanya yang dilakukan oleh umat manusia dimuka bumi ini terkadang terjadi secara berulang dan kurang mendapat evaluasi yang cukup oleh para pelakunya, termasuk oleh orang-orang yang menmakan dirinya sebagai pendidik sekalipun.
Fenomena mendidik yang selalu berulang secara ritualistic dan formalistic dengan kurang memperhatikan kondisi keunikan masing-masing peserta didik serta perubahan lingkungan sebagaimana diuraikan di atas sudah barang tentu menjadi kurang efektif bahkan bias jadi malah merugikan bagi peserta didik, sehingga memunculkan sebuah praktik yang dinamakan oleh Paolo Freire sebagai praktik dehumanisasi. Dehumanisasi adalah praktik mendidik yang distorsif yang mencederai praktik mendidik itu sendiri. Praktik semacam itu oleh beberapa ahli juga disebut sebagai praktik hominisasi atau domistikasi (adopsi), sehingga hasilnya bersifat kontaproduktif.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan itulah, maka keberadaan ilmu pendidikan –sebagai ilmu yang mempelajari suasana dan proses pendidikan yang berusaha memecahkan masalah-masalah yang terjadi didalamnya sehingga mampu menawarkan pilihan-pilihan bagaimana seharusnya mendidik— sangat penting untuk dipelajari agar bisa mendasari kegiatan mendidik. Dengan menguasai ilmu pendidikan, seorang pendidik akan dapat mendidik dengan baik dan terhindar dari tindakan-tindakan bodoh yang merugikan peserta didik.
Terkait dengan ilmu pendidikan, serta penerapannya dalam dunia pendidikan, setidaknya ada empat hal yang harus dikuasai oleh calon pendidik, yang kemudian dikenal dengan Empat Kompetensi Pendidik yaitu :
  1. Memahami peserta didik
  2. Menguasai materi pendidikan yang berupa materi bidang studi
  3. Menguasai pembelajaran yang mendidik, dan
  4. Mengembangkan kemampuan professional secara berkelanjutan
Dengan penguasaan keempat kompetensi sebagaimana disebutkan di atas, maka calon guru nantinya akan mampu melakukan tugas-tugas mendidik dan mengajar sebaik-baiknya bagi segenap potensi yang dimiliki anak.


Hakikat Pendidikan
Pendidikan merupakan transfer of knowledge, transfer of value dan transfer of culture and transfer of religius yang semuanya diarahkan pada upaya untuk memanusiakan manusia. Hakikat proses pendidikan ini sebagai upaya untuk mengubah perilaku individu atau kelompok agar memiliki nilai-nilai yang disepakati berdasarkan agama, filsafat, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan.
Menurut pandangan Paulo Freire pendidikan adalah proses peng-kaderan dengan hakikat tujuannya adalah pembebasan. Hakikat pendidikan adalah kemampuan untuk mendidik diri sendiri. Dalam konteks ajaran Islam hakikat pendidikan adalah mengembalikan nilai-nilai ilahiyah pada manusia (fitrah) dengan bimbingan al-quran dan as-Sunnah (Hadits) sehingga menjadi manusia yang ber-akhlakul karimah (insan kamil).
Dengan demikian hakikat pendidikan adalah sangat ditentukan oleh nilai-nilai, motivasi dan tujuan dari pendidikan itu sendiri. Maka hakikat pendidikan dapat dirumuskan sebagi berikut :
  1. Pendidikan merupakan proses interaksi manusiawi yang ditandai keseimbangan antara kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan pendidik
  2. Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi lingkungan yang mengalami perubahan yang semakin pesat
  3. Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masyarakat
  4. Pendidikan berlangsung seumur hidup
  5.  Pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu.

Hakikat Pendidikan Islam
Pendidikan secara semantik menunjukkan pada suatu kegiatan atau proses yang berhubungan dengan pembinaan yang dilakukan seseorang kepada orang lain. Pengertian tersebut belum menunjukkan adanya program, sistem, dan metode yang lazimnya digunakan dalam melakukan pendidikan atau pengajaran. Masih dalam pengertian kebahasaan ini, dijumpai pula kata tarbiyah dalam bahasa Arab. Kata ini sering digunakan oleh para ahli pendidikan Islam untuk menerjemahkan kata pendidikan dalam bahasa Indonesia.
Selain kata tarbiyah terdapat pula kata ta’lim. Kata ini oleh para penerjemah sering diartikan pengajaran. Dalam pengertian ini Yusuf A. Faisal, pakar dalam pendidikan mengatakan bahwa pengertian pendidikan islam dari sudut etimologi (ilmu akar kata) sering dikatakan istilah ta’lim dan tarbiyah yang bersal dari kata allama dan rabba yang dipergunakan dalam al-Qur‟an, sekalipun kata tarbiyah lebih luas konotasinya, yaitu mengandung arti memelihara, membesarkan dan sekaligus mengandung makna mengajar (allama). Selanjutnya Faisal mengutip pendapat Naquib Alatas dalam bukunya Islam and Secularism sebagaimana tersebut di atas terdapat pula kata ta’dib yang ada hubungannya dengan kata adab yang berarti sopan santun.
Selanjutnya bagaimanakah penjelasan yang diberikan al-Quran terhadap ketiga kata tersebut ?. Untuk ini Muhammad Fuad Abd al-Baqy dalam bukunya Al-Mu‟jam al-Mufahras li Alfadz al-Qur’an al Karim telah menginformasikan bahwa dalam al-Qur’an kata tarbiyah dan kata yang serumpun dengannya diulang sebanyak lebih dari 872 kali. Kata tersebut berakar pada rabb. Kata ini sebagaimana dijelaskan oleh al-Raghib al-Ashfahany, pada mulanya berarti al-Tarbiyah yaitu insya’ al-Sya’i halan ila halin ila had tamam yang artinya mengembangkan atau menumbuhkan sesuatu tahap demi setahap sampai pada batas yang sempurna.
Kata selanjutnya digunakan oleh al-Qur’an ntuk berbagai hal antara lain digunakan untuk menerangkan salah satu sifat atau perbuatan Tuhan, yaitu rabb al-‘alamin yang artinya Pemelihara, Pendidik, Penjaga, Penguasa dan Penjaga sekalian alam. Selain kata rabb digunakan untuk arti sebagaimana disebut diatas, digunakan pula untuk arti yang obyeknya lebih terperinci lagi, yakni bahwa yang dipelihara, dididik dan seterusnya ada yang berupa al-‘arsyy al adzhim, yakni arsy yang demikian besar (Qs. at-Taubah : 129), al-Masyaariqi, yakni ufuk timur tempat terbitnya matahari (Qs. as-Shaaffat : 5), aba’ukum al-awwalun, yakni nenek moyang para pendahulu orang kafir Quraisy (Qs. as-Shaaffat : 5), al-Maghrib, ufuk barat tempat terbenamnya matahari (Qs. ar-Rahman : 17), al-Baldah, yakni negeri dalam hal ini adalah Makkah al-Mukarramah (Qs. al-Baqarah : 126) , Bait, yakni rumah yang dalam hal ini adalah Baitullah, Kabah yang ada di Makkah.
Beberapa ayat tersebut diatas menunjukan dengan jelas, bahwa kata rabb sebagaimana yang ditunjukan pada al-Quran ternyata digunakan untuk menunjukan obyek yang bermacam-macam, yang dalam hal ini meliputi benda-benda yang bersifat fisik dan non fisik. Dengan demikian pendidikan meliputi pemeliharaan terhadap seluruh mahluk Tuhan.
Adapun kata yang kedua, dalam hal ini ‘allama sebagaimana dijelaskan oleh al-Raghib al-Ashfahany, digunakan secara khusus untuk menunjukan sesuatu yang dapat diulang dan diperbanyak sehingga meninggalkan bekas atau pengaruh pada diri seseorang dan ada pula yang mengatakan bahwa kata tersebut digunakan untuk mengingatkan jiwa agar memperoleh gambaan mengenai arti tentang sesuatu, dan kadang kata tersebut juga dapa diartikan pemberitahuan.
Kata ta’lim yang berakar pada kata ‘allama dengan berbagai akar kata yang serumpum dengannya, dalam al-Quran disebut sebanyak lebih dari 840 kali dan digunakan untuk arti yang bermacam-macam. Terkadang oleh Allah digunakan untuk menjelaskan pengetahuan-Nya yang diberikan kepada manusia (Qs. al-Baqarah : 269), digunakan untuk menjelaskan bahwa Allah Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu yang terjadi pada manusia (Qs. Huud : 79), digunakan untuk menjelaskan bahwa Allah mengetahui orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya (Qs. al-Baqarah : 143). Dari informasi ini terlihat bahwa kata ta’lim dalam al-Quran mengacu pada adanya sesuatu berupa pengetahuan yang diberikan kepada seseorang, jadi sifatnya intelektual. Sedangkan kata tarbiyah lebih mengacu pada bimbingan, pemeliharaan, arahan, penjagaan, dan sifatnya pembentukan kepribadian.
Adapun mengenai ta’dib yang berakar pada kata addaba tidak dijumpai dalam al-Quran. Kata tersebut dijumpai dalam hadist antara lain yang berbunyi : addabani rabby fa-ahsana ta’diby.
Ketiga istilah tersebut (ta’lim, tarbiyah, ta’dib), sebenarnya memberi kesan bahwa antara satu dan yang lainnya berbeda. Beda istilah ta’lim mengesankan memberikan proses pemberian bekal pengetahuan. Sedangkan istilah tarbiyah, mengesankan proses pembinaan dan pengarahan bagi pembentukan kepribadian dan sikap mental. Sementara istilah ta’dib mengesankan proses pembinaan dan pengarahan bagi pembentukan kepribadian dan sikap mental, mengesankan proses pembinaan terhadap sikap moral dan estetika dalam kehidupan yang lebih mengacu pada peningkatan martabat manusia.

No comments:

Post a Comment